Gegap gempita pemilu 2009 yang akan berlangsung pada tanggal 9 april kian terasa. Kampanye terbuka pun telah digaungkan terhitung 16 maret sampai 5 april mendatang. Berbagai pemberitaan seputar pemilu menghiasi surat kabar dan televisi. Apakah media massa telah melaksanakan tugasnya sebagai penyampai informasi?. Adakah berbagai pemberitaan yang muncul membuat masyarakat mantap memilih peserta pemilu 2009?
Pemilu 2009 yang sedang berlangsung merupakan pemilu yg “unik” karena menerapkan suara terbanyak dalam pengumpulan suara dari peserta pemilu. Dengan peraturan tersebut,banyak caleg yang berusaha mengumpulkan suara sebanyak mungkin dan memasang iklan-iklan parpol seperti baliho dan spanduk. Berbagai fenomena menarik dari pelaksanaan pemilu 2009 tak luput dari pemberitaan media massa,dan tak jarang kita temukan keberpihakan media terhadap salah satu partai politik. Tulisan ini ingin mengangkat pendapat Napoleon tentang salah satu fungsi dari media massa,yaitu “fungsi mempengaruhi”,Napoleon pada masa jayanya pernah berkata bahwa “ia lebih takut kepada empat surat kabar daripada seratus serdadu dengan sangkar terhunus.” (onong uchjana,ilmu,teori dan filsafat komunikasi,2003).
Pengaruh media massa
The word media is the plural of medium.It;s derived from the latin word medius,which means “middle”. The communication media are the different technogical processes that facilitate communicatiom between the sender of a massage and the receiver of that massage. (Media Society, David Croteau, 1987,hal 7)
( Kata media adalah jamak dari medium. Kata tersebut berasal dari kata latin,medius, yang berarti “tengah”. Komunikasi media adalah proses teknologi yang berbeda yang memfasilitasi komunikasi antara pengirim pesan dan penerima pesan ). (terjemahan penulis)
Dewasa ini, media massa merupakan alat penting yang dapat kita gunakan untuk menyampaikan pendapat,informasi,menghibur bahkan mempengaruhi orang untuk dapat se-iya se-kata dengan sang komunikator. Media massa menjadi alat untuk memperoleh apapun yang kita butuhkan guna menjadi masyarakat informasi,di mana informasi menjadi sebuah kebutuhan bagi kita. Dari segi pendidikan, media membantu manusia untuk mendapat kabar nasional dan internasional serta memperkaya khazanah keilmuan di berbagai bidang. Media juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan akan hiburan ketika kepenatan akan rutinitas hadir. salah satu fungsi media sebagai alat untuk mempengaruhi seakan klop dengan event pemilu 2009 yang sedang berlangsung. Semua caleg dan parpol menggunakan media sebagai alat untuk meraup suara terbanyak dari masyarakat pemilih. Berbagai iklan dan janji-janji kampanye bermunculan,entah di media cetak ataupun elektronik. Para celeg pun berharap dengan fungsi media tersebut dapat memuluskan langkah mereka menuju kursi kekuasaan.
Masih segar dalam ingatan pemberitaan media tentang terdzaliminya SBY oleh megawati sebelum pemilu 2004. Dengan gencarnya pemberitaan di media,masyarakat pun menaruh simpati terhadap SBY,sehingga persentase keterpilihan SBY saat itu bisa jadi karena rasa simpati tersebut,di samping pencitraan figur seorang SBY yang mengusung slogan “bersama kita bisa”.
Tingkat elektabilitas peserta pemilu 2009
Pemberitaan “kans” masing-masing peserta pemilu kian gencar di media,terutama untuk peluang capres 2009. Sampai saat ini,media hanya concern terhadap tiga capres, yaitu SBY, Megawati dan JK. Sementara Golkar masih memperbincangkan peluang capres yang akan diusung selain JK, SBY dan Megawati kian gencar “adu keberhasilan dan kekurangan” masing-masing.
Namun demikian,banyak media memberitakan bahwa tingkat elektabilitas SBY selalu lebih unggul di atas capres lainnya dalam tiap survey yang diadakan. Seperti yang diberitakan dalam Koran Jurnal Nasional (27/03/09), pada survey terbaru LSN (Lembaga survey nasional) , menunjukkan bahwa tingkat keterpilihan SBY adalah 45,1%. Persentase ini sangat jauh dibanding Megawati serta capres lain.
Persentase yang didapat SBY bisa disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang memandang banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah di bawah pimpinan SBY. Jika kita melihat ritme politik yang ada saat ini,jelas bahwa masyarakat Indonesia masih membutuhkan seorang figur yang dapat memperlihatkan usaha guna memajukan rakyat dan bangsa Indonesia.Selain figur yang selalu aware terhadap persoalan bangsa Indonesia,pencitraan tokoh politik pun masih menjadi alasan kenapa seorang capres dapat terpilih.
Dalam beberapa hari terakhir, pemberitaan Megawati yang menolak dengan tegas pemberian BLT, kerap muncul di media massa. Mega beranggapan bahwa BLT mengajarkan masyarakat untuk bermental pengemis. Hal ini menjadi pukulan telak bagi Mega yang seakan tidak pro rakyat. Selang beberapa hari setelah itu, mega pun mengoreksi ucapannya dan bermaksud untuk mengawasi jalannya BLT. Jika kita lihat, langkah inimerupakan usaha Mega untuk memperbaiki citranya yang sempat tercoreng. Rakyat Merdeka(29/03/09) memberitakan bahwa tingkat elektabilitas Megawati hanya mentok di angka 20%. Hasil survey terbaru menunjukkan bahwa Mega mendapat 15,3% jauh tertinggal oleh SBY dengan 41,1% suara publik. Ada tiga hal yang dapat kita cermati dari persentase elektabilitas Megawati sebagai capres dari PDIP yang “katanya” hanya akan mendapatkan 20% suara.
Pertama, Strategi Kampanye; Sebuah kampanye membutuhkan strategi komunikasi yang jitu. Strategi merupakan perencanaan(planning) dan manajemen(management) untuk mencapai suatu tujuan (Onong Uchjana, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi,2003,hal 299). Megawati melakukan perencanaan yang salah ketika selalu menyalahkan dan mnyudutkan kebijakan pemerintah yang ada. Bahkan ketika Mega menyalahkan pemberian BLT, itu menunjukkan bahwa strategi kampanye yang ada tidak berjalan dengan baik.
Tim kreatif kampanye beserta mega harus menyadari bahwa masyarakat kita semakin pintar dan tidak ada gunanya saling menyalahkan dalam kampnye tanpa diiringi dengan penyelesaian yang cermat.
Kedua, Kepercayaan terhadap kharisma anak proklamator; Tampaknya figur Bung karno di balik nama Megawati tak mampu membuat masyarakat menumpukan kepercayaannya terhadap sosok Megawati. Hal ini bisa jadi karena track record yang dimiliki Mega selama menjadi presiden. Berbagai permasalahan bangsa,semisal penjualan aset Negara mewarnai perjalanan Mega selama memimpin. Bagaimanapun dengan kesadaran untuk meraih negara demokrasi yang sebenar-benarnya, rakyat tidak dapat menyamakan kualitas kepemimpinan Mega dengan sang ayah,Soekarno.
Ketiga, Slogan sembako murah; Salah satu slogan yang kita kenal dalam kampanye Mega adalah “sembako murah”, di samping lapangan pekerjaan yang luas. Jika kita amati, nampaknya kata-kata sembako murah adalah suatu hal yang dapat “meninabobokan” rakyat Indonesia. Dalam krisis ekonomi global saat ini, jangan ada suatu janji bahwa sembako dapat dibeli secara murah, yang penting adalah meningkatkan daya beli masyarakat,sehingga rakyat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mudah-mudahan saja,siapapun presiden yang terpilih dapat memahami bahwa pemilu 2009 bukanlah ajang persaingan mulut dan janji-janji,namun merupakan pendidikan politik untuk rakyat Indonesia.
Kamis, 02 April 2009
Langganan:
Postingan (Atom)