Rabu, 11 Maret 2009

pelayanan prima Transjakarta Busway

Selalu ada fenomena unik di belakang eksistensi transjakarta busway yang digagas oleh mantan gubernur DKI Jakarta,Sutiyoso.sabtu,28 februari,saya menaiki busway jurusan matraman.kondisi penumpang relatif penuh. Tiba halte pemberhentian berikut dan banyak penumang akan turun.Busway berhenti kurang lebih satu menit kemudian bersiap untuk jalan dan belum seluruh penumang turun dari bus. Ketika satu dari penumang tersebut setengah berteriak,petugas pintu busway dengan santai berkata,”turun di halte berikutnya saja ya bu”. Aakah ini yang dinamakan pelayanan prima transjakarta busway?tanpa memikirkan tujuan penumang dan mengabaikan pelayanan publik. Kualitas pelayanan busway harus ditingkatkan,karena pelayanan transportasi yang baik,apalagi sekaliber busway adalah cerminan transportasi ibu kota,bahkan negara.

fenomena "getek" di ibukota

Alangkah beruntungnya kita sebagai bangsa Indonesia yang dianugerahi Tuhan sebagai sebuah “surga”. Surga dunia yang membuat negara manapun takjub dan iri untuk memilikinya. Namun, “surga” tersebut telah membuat kita terlena,karena tidak diiringi dengan kualitas SDM yang baik. Kemisinan menjadi potret kehidupan warga sehari-hari. Kawasan kumuh menjadi teman yang akrab bagi kebanyakan warga. Tingkat kemakmuran yang sangat kontras menjadi hal yang sering kita lihat di negeri ini,yang kaya menjadi semakin kaya dan yang miskin terjerembab dalam kehidupan yang tidak menentu.
Bukankah suatu bangsa/negara berfungsi untuk membuat kehidupan rakyatnya sejahtera. Sebagaimana tercantum di dalam UUD 45,tujuan negara RI adalah: “untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa.dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi,dan keadilan sosial dengan berdasarkan keadilan:..........(pancasila, (lebih lanjut lihat Dasar-dasar Ilmu politik,Miriam Budiarjo,hal 55. Lebih lanjut Harold J Laski mengatakan bahwa tujuan negara adalah”menciptakan keadaan di mana rakyat dapat mencapai keinginan-keinginan mereka secara maksimal”(dasar-dasar ilmu politik,Miriam Budiarjo,hal.55.
Tujuan dan fungsi negara yang tertulis seakan kontras dengan realita bangsa yang banyak kita temukan diberbagai sudut daerah,terutama ibukota Jakarta sebagai “first lace which is known by whole world”. Salah satu fenomena yang saya temui adalah keberadaan “getek” di ibu kota Jakarta. Hati saya terusik dan tertarik untuk menulis tentang hal tersebut karena rasa heran yang menyelimuti. potret keberadaan getek di Jakarta menandakan bahwa pembangunan sarana publik semisal jembatan,halte,taman kota,transortasi dan sebagainya masih kurang dari kata baik,bahkan cukup. Bnayak pertanyaan muncul di diri,apa saja yang telah dilakukan pemerintah selama masa baktinya?sejauh mana pemerintah mengetahui kondisi warganya?.
Tentu saja,pembangunan jembatan di daerah sekitar Manggarai dan pasar Rumput tidak lebih banyak menghabiskan biaya ketimbang menghambur-hamburkan uang negara untuk menggaji anggota DPR yang “katanya” menjadi penyalur suara rakyat. Saya tergelitik ketika mendengar teman dari daerah Semarang yang untuk pertama kalinya datang ke Jakarta dan mengatakan “kok keadaan di ibu kota Jakarta gak lebih baik ya dari di daerah?”. Tersenyum malu saya mendengarnya,lantas apa yang dapat diunggulkan sebuah ibukota selain gedung-gedung yang menjulang tinggi?. pemerintah perlu melakukan beberapa langkah konkret untuk membentuk sarana publik yang nyaman bagi warga Jakarta. Sebagai contoh melakukan pembenahan fasilitas dibeberapa titik daerah yang membutuhkan, sehingga tidak lagi kita temui “getek-getek” lain yang sangat mungkin bertambah banyak di ibukota.
Kita harus ingat, bahwa pembngaunan sarana publik adalah salah satu cerminan usaha suatu bangsa dalam menyejahterakan warganya.