Sorotan untuk berjilbab yang di layangkan terhadap Ibu Ani Yudhoyono oleh DPP PKS Mahfudz Siddiq amat menarik untuk diamati. Betapa tidak, dalam kancah pertarungan pilpres 2009 yang kian dekat, anjuran berjilbab diluncurkan sebagai isu yang dapat menarik simpati publik. Dengan simpati tersebut, masyarakat diharapkan akan memilih capres atau cawapes tertentu yang beristrikan wanita berjilbab.
Adalah pasangan JK-Wiranto yang mempunyai istri seorang wanita berjilbab, yaitu Ibu Mufidah Kalla dan Ibu Uga Wiranto. Dalam kesehariannya,mereka memang selalu menggunakan jilbab. Namun, dibalik isu jilbab ini, muncul sebuah pertanyaan besar, apakah jilbab harus turut serta dipolitisasi sebagai isu kampanye dalam meraih simpati dan dukungan masyarakat serta instansi atau ormas tertentu?.
Hakikat berjilbab
Dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 59 disebutkan, “Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Subhanallah…betapa Islam sangat mulia karena telah menuntun dan sangat memperhatikan kaum perempuan guna menghindarkan mereka (perempuan) dari gangguan. Dengan berjilbab, perempuan akan terlindungi dari hal-hal yang tidak baik. Berjilbab pun sebagai pengingat atas segala perbuatan yang akan dan telah kita laksanakan.
Berjilbab tidaklah menghalangi karier seorang perempuan. Di Indonesia, sebuah Rumah Sakit di Bekasi melarang pegawainya menggunakan jilbab. Demi mempertahankan dirinya,sang pegawai pun rela meninggalkan pekerjaannya. Banyak pihak yang mengecam kebijakan manajemen rumah sakit tersebut(Republika/31/05/09).
Dalam agama Islam,menutup seluruh aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan adalah wajib jika sudah baligh. Namun, perlu kita sadari, tidak ada sebuah keterpaksaan. Kesadaran untuk berjilbab harus keluar dari diri sendiri. Tidak elok jika bejilbab dengan sebuah keterpaksaan, terlebih jika berjilbab dijadikan sebagai upaya untuk menarik simpati publik dalam pemilu 2009. Wallahu a’lam bisshowaab.
Jilbab sebagai isu kampanye pilpres 2009
Gaung pelaksanaan pilpres 2009 makin dekat. Deklarasi kampanye damai yang diundur menjadi 10 juni 2009 pun tinggal menghitung hari. Kampanye pilpres yang tehitung dari tanggal 2 juni-4 juli 2009 pun mulai dipersiapkan. Berbagai pihak, baik KPU sebagai penyelenggara pemilu serta peserta pemilu termasuk tim sukses 3 pasangan capres cawapres, mulai bersiap untuk menarik dukungan juga simpati publik.
Isu jilbab yang berkembang akhir-akhir ini, menjadi sebuah isu yang dapat mempengaruhi masyarakat guna mengambil keputusan dalam memilih pasangan capres cawapres tertentu. Isu jilbab yang mendapat bantahan dari JK ini mulai berkembang di masyarakat dan menimbulkan opini tertentu.
Dalam kancah politik, pengaruh adalah tipe kekuasaan yang jika seseorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. (Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiarjo,hal67)
Guna memberikan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat Indonesia, para peserta pemilu diharapkan tidak membangun isu politik yang menyinggung agama, apalagi mempolitisasi sebuah agama. Agama dan politik adalah sebuah kesatuan yang ada, karena eksistensi agama dapat mengcounter perilaku negatif dalam berpolitik. Namun demikian, bukan berarti politisasi agama diperbolehkan. Isu jilbab yang menyeruak adalah bentuk politisasi agama dalam meraih simpati masyarakat.
Oleh karena itu, dalam membangun Negara demokrasi yang menghormati ajaran sebuah agama, seyogyanya isu jilbab tidak dikaitkan dan tidak diluncurkan sebagai isu yang mengangkat salah satu pasangan capres cawapres tertentu dan menyindir pasangan lain. Marilah kita berbenah dalam pelaksanaan pilpres 2009 dan berkompetisi secara sehat, tanpa mengesampingkan etika dalam berpolitik.
Minggu, 14 Juni 2009
Jilbab dan Pilpres 2009
Sorotan untuk berjilbab yang di layangkan terhadap Ibu Ani Yudhoyono oleh DPP PKS Mahfudz Siddiq amat menarik untuk diamati. Betapa tidak, dalam kancah pertarungan pilpres 2009 yang kian dekat, anjuran berjilbab diluncurkan sebagai isu yang dapat menarik simpati publik. Dengan simpati tersebut, masyarakat diharapkan akan memilih capres atau cawapes tertentu yang beristrikan wanita berjilbab.
Adalah pasangan JK-Wiranto yang mempunyai istri seorang wanita berjilbab, yaitu Ibu Mufidah Kalla dan Ibu Uga Wiranto. Dalam kesehariannya,mereka memang selalu menggunakan jilbab. Namun, dibalik isu jilbab ini, muncul sebuah pertanyaan besar, apakah jilbab harus turut serta dipolitisasi sebagai isu kampanye dalam meraih simpati dan dukungan masyarakat serta instansi atau ormas tertentu?.
Hakikat berjilbab
Dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 59 disebutkan, “Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Subhanallah…betapa Islam sangat mulia karena telah menuntun dan sangat memperhatikan kaum perempuan guna menghindarkan mereka (perempuan) dari gangguan. Dengan berjilbab, perempuan akan terlindungi dari hal-hal yang tidak baik. Berjilbab pun sebagai pengingat atas segala perbuatan yang akan dan telah kita laksanakan.
Berjilbab tidaklah menghalangi karier seorang perempuan. Di Indonesia, sebuah Rumah Sakit di Bekasi melarang pegawainya menggunakan jilbab. Demi mempertahankan dirinya,sang pegawai pun rela meninggalkan pekerjaannya. Banyak pihak yang mengecam kebijakan manajemen rumah sakit tersebut(Republika/31/05/09).
Dalam agama Islam,menutup seluruh aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan adalah wajib jika sudah baligh. Namun, perlu kita sadari, tidak ada sebuah keterpaksaan. Kesadaran untuk berjilbab harus keluar dari diri sendiri. Tidak elok jika bejilbab dengan sebuah keterpaksaan, terlebih jika berjilbab dijadikan sebagai upaya untuk menarik simpati publik dalam pemilu 2009. Wallahu a’lam bisshowaab.
Jilbab sebagai isu kampanye pilpres 2009
Gaung pelaksanaan pilpres 2009 makin dekat. Deklarasi kampanye damai yang diundur menjadi 10 juni 2009 pun tinggal menghitung hari. Kampanye pilpres yang tehitung dari tanggal 2 juni-4 juli 2009 pun mulai dipersiapkan. Berbagai pihak, baik KPU sebagai penyelenggara pemilu serta peserta pemilu termasuk tim sukses 3 pasangan capres cawapres, mulai bersiap untuk menarik dukungan juga simpati publik.
Isu jilbab yang berkembang akhir-akhir ini, menjadi sebuah isu yang dapat mempengaruhi masyarakat guna mengambil keputusan dalam memilih pasangan capres cawapres tertentu. Isu jilbab yang mendapat bantahan dari JK ini mulai berkembang di masyarakat dan menimbulkan opini tertentu.
Dalam kancah politik, pengaruh adalah tipe kekuasaan yang jika seseorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. (Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiarjo,hal67)
Guna memberikan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat Indonesia, para peserta pemilu diharapkan tidak membangun isu politik yang menyinggung agama, apalagi mempolitisasi sebuah agama. Agama dan politik adalah sebuah kesatuan yang ada, karena eksistensi agama dapat mengcounter perilaku negatif dalam berpolitik. Namun demikian, bukan berarti politisasi agama diperbolehkan. Isu jilbab yang menyeruak adalah bentuk politisasi agama dalam meraih simpati masyarakat.
Oleh karena itu, dalam membangun Negara demokrasi yang menghormati ajaran sebuah agama, seyogyanya isu jilbab tidak dikaitkan dan tidak diluncurkan sebagai isu yang mengangkat salah satu pasangan capres cawapres tertentu dan menyindir pasangan lain. Marilah kita berbenah dalam pelaksanaan pilpres 2009 dan berkompetisi secara sehat, tanpa mengesampingkan etika dalam berpolitik.
Adalah pasangan JK-Wiranto yang mempunyai istri seorang wanita berjilbab, yaitu Ibu Mufidah Kalla dan Ibu Uga Wiranto. Dalam kesehariannya,mereka memang selalu menggunakan jilbab. Namun, dibalik isu jilbab ini, muncul sebuah pertanyaan besar, apakah jilbab harus turut serta dipolitisasi sebagai isu kampanye dalam meraih simpati dan dukungan masyarakat serta instansi atau ormas tertentu?.
Hakikat berjilbab
Dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 59 disebutkan, “Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Subhanallah…betapa Islam sangat mulia karena telah menuntun dan sangat memperhatikan kaum perempuan guna menghindarkan mereka (perempuan) dari gangguan. Dengan berjilbab, perempuan akan terlindungi dari hal-hal yang tidak baik. Berjilbab pun sebagai pengingat atas segala perbuatan yang akan dan telah kita laksanakan.
Berjilbab tidaklah menghalangi karier seorang perempuan. Di Indonesia, sebuah Rumah Sakit di Bekasi melarang pegawainya menggunakan jilbab. Demi mempertahankan dirinya,sang pegawai pun rela meninggalkan pekerjaannya. Banyak pihak yang mengecam kebijakan manajemen rumah sakit tersebut(Republika/31/05/09).
Dalam agama Islam,menutup seluruh aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan adalah wajib jika sudah baligh. Namun, perlu kita sadari, tidak ada sebuah keterpaksaan. Kesadaran untuk berjilbab harus keluar dari diri sendiri. Tidak elok jika bejilbab dengan sebuah keterpaksaan, terlebih jika berjilbab dijadikan sebagai upaya untuk menarik simpati publik dalam pemilu 2009. Wallahu a’lam bisshowaab.
Jilbab sebagai isu kampanye pilpres 2009
Gaung pelaksanaan pilpres 2009 makin dekat. Deklarasi kampanye damai yang diundur menjadi 10 juni 2009 pun tinggal menghitung hari. Kampanye pilpres yang tehitung dari tanggal 2 juni-4 juli 2009 pun mulai dipersiapkan. Berbagai pihak, baik KPU sebagai penyelenggara pemilu serta peserta pemilu termasuk tim sukses 3 pasangan capres cawapres, mulai bersiap untuk menarik dukungan juga simpati publik.
Isu jilbab yang berkembang akhir-akhir ini, menjadi sebuah isu yang dapat mempengaruhi masyarakat guna mengambil keputusan dalam memilih pasangan capres cawapres tertentu. Isu jilbab yang mendapat bantahan dari JK ini mulai berkembang di masyarakat dan menimbulkan opini tertentu.
Dalam kancah politik, pengaruh adalah tipe kekuasaan yang jika seseorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. (Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiarjo,hal67)
Guna memberikan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat Indonesia, para peserta pemilu diharapkan tidak membangun isu politik yang menyinggung agama, apalagi mempolitisasi sebuah agama. Agama dan politik adalah sebuah kesatuan yang ada, karena eksistensi agama dapat mengcounter perilaku negatif dalam berpolitik. Namun demikian, bukan berarti politisasi agama diperbolehkan. Isu jilbab yang menyeruak adalah bentuk politisasi agama dalam meraih simpati masyarakat.
Oleh karena itu, dalam membangun Negara demokrasi yang menghormati ajaran sebuah agama, seyogyanya isu jilbab tidak dikaitkan dan tidak diluncurkan sebagai isu yang mengangkat salah satu pasangan capres cawapres tertentu dan menyindir pasangan lain. Marilah kita berbenah dalam pelaksanaan pilpres 2009 dan berkompetisi secara sehat, tanpa mengesampingkan etika dalam berpolitik.
Menuju Pencapaian Akhlak Terpuji
Nabi SAW selalu banyak berdo’a dengan penuh kerendahan diri. Beliau memohon kepada Allah Ta’ala agar menghiasinya dengan adab yang baik serta akhlak mulia. Nabi berkata dalam doanya,”Ya Allah, baguskanlah akhlak dan bentukku.”
Dalam kehidupan ini, akhlak adalah cerminan pribadi seseorang. Manusia mempunyai hati dan pikiran dalam membentuk akhlak, yang akan bermuara pada dua macam akhlak,yaitu akhlak yang terpuji (akhlakul karimah) atau akhlak yang tercela (akhlakul madzmumah). Akhlak yang terpuji akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan di dunia serta akhirat kelak. Sebaliknya,akhlakul madzmumah akan membawa kita menuju ketidakbahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.
Dalam berinteraksi dan bermuamalah dengan sesama muslim lainnya,akhlakul karimah senantiasa di nanti. Tiap orang menjadi bahagia serta lapang dada ketika berjumpa dengan sesama saudaranya yang mempunyai akhlak terpuji. Dengan akhlak terpuji, jalinan persaudaraan akan lebih erat dan mengedepankan toleransi antar sesama. Lantas, bagaimanakah kriteria akhlak yang terpuji?
Said Bin Hisyam berkata, “Aku datang menemui Aisyah ra, lalu aku bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah SAW.” Maka Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau membaca Al-Qur’an? Aku menjawab,”ya”. Aisyah berkata,”Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”.
Maka, marilah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai panutan dalam membentuk akhlak menuju pribadi yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan.
Firman Allah Ta’ala: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raf:199).
Pengucapan kata maaf adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Tidak sedikit manusia yang merasa bahwa dirinya benar dan enggan untuk memberi atau mengucap maaf.
Ahlak yang terpuji mendatangkan kebaikan dalam tiap hal. Dengan akhlak yang baik, kita dapat menjadi pribadi pemaaf yang melakukan segala sesuatu dengan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Allah telah memberikan tuntunan bagi seluruh hambaNya dalam melaksanakan kehidupan ini melalui Al-Qur’an. Barang siapa yang mengikuti tuntunanNya maka akan selamat dalam mengarungi berbagai permasalahan dan ujian di dunia.
Pentingnya menjaga akhlak, seperti perumpamaan wanita cantik dan lelaki rupawan yang pintar, namun tidak berakhlak. Keadaan tersebut sama hal nya dengan wanita cantik dan lelaki rupawan tanpa sehelai pakaian,maka akan senantiasa terlihat tidak indah.
Dalam kancah politik saat ini, keberadaan serta pencapaian akhlak terpuji sangat diharapkan banyak pihak, serta dihargai oleh tiap elemen masyarakat. Hal ini dikarenakan, dengan akhlak terpuji, segala tindak tanduk kita tidak akan mendatangkan kerugian, bahkan sebaliknya, akan mendatangkan kebaikan. Namun, bukan berarti alasan membentuk akhlak terpuji adalah karena ingin mendapat simpati dari banyak orang, naudzubillah.
Dalam berkompetisi meraih kemenangan, jangan ada sindiran yang merugikan banyak pihak atau bahkan menyakiti pihak tertentu. Bersainglah dengan akhlak yang terpuji, karena dengan itu, persaingan secara sehat akan terwujud. Marilah kita mencontoh pribadi Rasulullah SAW yang tidak pernah memaki seorang mu’min, melainkan makian itu menjadi tebusan dan rahmat baginya.
Dalam kehidupan ini, akhlak adalah cerminan pribadi seseorang. Manusia mempunyai hati dan pikiran dalam membentuk akhlak, yang akan bermuara pada dua macam akhlak,yaitu akhlak yang terpuji (akhlakul karimah) atau akhlak yang tercela (akhlakul madzmumah). Akhlak yang terpuji akan menghantarkan kita menuju kebahagiaan di dunia serta akhirat kelak. Sebaliknya,akhlakul madzmumah akan membawa kita menuju ketidakbahagiaan, baik di dunia maupun akhirat.
Dalam berinteraksi dan bermuamalah dengan sesama muslim lainnya,akhlakul karimah senantiasa di nanti. Tiap orang menjadi bahagia serta lapang dada ketika berjumpa dengan sesama saudaranya yang mempunyai akhlak terpuji. Dengan akhlak terpuji, jalinan persaudaraan akan lebih erat dan mengedepankan toleransi antar sesama. Lantas, bagaimanakah kriteria akhlak yang terpuji?
Said Bin Hisyam berkata, “Aku datang menemui Aisyah ra, lalu aku bertanya kepadanya tentang akhlak Rasulullah SAW.” Maka Aisyah menjawab, “Tidakkah engkau membaca Al-Qur’an? Aku menjawab,”ya”. Aisyah berkata,”Akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”.
Maka, marilah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai panutan dalam membentuk akhlak menuju pribadi yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan.
Firman Allah Ta’ala: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raf:199).
Pengucapan kata maaf adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Tidak sedikit manusia yang merasa bahwa dirinya benar dan enggan untuk memberi atau mengucap maaf.
Ahlak yang terpuji mendatangkan kebaikan dalam tiap hal. Dengan akhlak yang baik, kita dapat menjadi pribadi pemaaf yang melakukan segala sesuatu dengan bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits.
Allah telah memberikan tuntunan bagi seluruh hambaNya dalam melaksanakan kehidupan ini melalui Al-Qur’an. Barang siapa yang mengikuti tuntunanNya maka akan selamat dalam mengarungi berbagai permasalahan dan ujian di dunia.
Pentingnya menjaga akhlak, seperti perumpamaan wanita cantik dan lelaki rupawan yang pintar, namun tidak berakhlak. Keadaan tersebut sama hal nya dengan wanita cantik dan lelaki rupawan tanpa sehelai pakaian,maka akan senantiasa terlihat tidak indah.
Dalam kancah politik saat ini, keberadaan serta pencapaian akhlak terpuji sangat diharapkan banyak pihak, serta dihargai oleh tiap elemen masyarakat. Hal ini dikarenakan, dengan akhlak terpuji, segala tindak tanduk kita tidak akan mendatangkan kerugian, bahkan sebaliknya, akan mendatangkan kebaikan. Namun, bukan berarti alasan membentuk akhlak terpuji adalah karena ingin mendapat simpati dari banyak orang, naudzubillah.
Dalam berkompetisi meraih kemenangan, jangan ada sindiran yang merugikan banyak pihak atau bahkan menyakiti pihak tertentu. Bersainglah dengan akhlak yang terpuji, karena dengan itu, persaingan secara sehat akan terwujud. Marilah kita mencontoh pribadi Rasulullah SAW yang tidak pernah memaki seorang mu’min, melainkan makian itu menjadi tebusan dan rahmat baginya.
Di Balik Makna Silaturahmi
Rasulullah bersabda” Barang siapa yang ingin diperluas rezekinya dan dipanjangkan umurnya,maka bersilaturahmilah”. Di zaman yang semakin modern ini, keberadaan silaturahmi dan menjaga ukhuwwah makin memudar. Hal tersebut diiringi dengan kemajuan teknologi yang dikatakan dapat menggantikan makna silaturahmi.
Islam telah menganjurkan kepada kita sebagai kaum muslimin dan muslimat untuk menjaga silaturahmi antar sesama. Dengan silaturahmi, persaudaraan pun makin erat. Ketika kita bersilaturahmi, berbagai hal dapat dibagi antar sesama. Mulai dari pertukaran pendapat hingga informasi, maka peluang untuk menjemput rezeki Allah pun semakin terbuka. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah, bahwa silaturahmi dapat memperluas rezeki.
Silaturahmi adalah hal yang mudah diucap,namun sulit untuk dilakukan. Ketika niat untuk bersilaturahmi menuju rumah saudara mu’min tercetus,berbagai halangan serta godaan menghampiri.
Rasa enggan, malas hingga bisikan syaithan pun berdatangan, karena syaithan pernah berjanji bahwa mereka akan mengganggu keturunan Nabi Adam,hingga manusia tidak akan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Karena itu, ketika niat sudah tertancap untuk melakukan silaturahmi,maka segerakanlah. Batasan serta pengertian silaturahmi pun tidak terhenti sebatas mengunjungi rumah saudara muslim dan muslimat. Berbagai cara dapat mempererat silaturahmi kita, seperti menggunakan perangkat teknologi komunikasi. Namun, mengunjungi rumah saudara lebih afdhal ketimbang perangkat teknologi komunikasi. Karena, begitu kita melangkah untuk silaturahmi,maka para malaikat pun mencatat niat serta amal baik kita.
Seorang muslim bagi muslim lainnya diumpamakan seperti tali yang mengikat satu sama lain. Karena itu, marilah kita menjaga tali tersebut agar tetap erat, sehingga umat Islam dapat bersatu dan kuat dalam menghadapi berbagai gangguan serta ujian.
Silaturahmi dapat menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dengan silaturahmi, rasa pesaudaraan semakin terpupuk dan membangun kepedulian terhadap sesama. ‘Auf bin Malik memberikan landasan penting dalam meneguhkan prinsip-prinsip persaudaraan dalam agama dan akidah Islam. Landasan tersebut yakni, “seorang muslim tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari dan “tidak boleh bernazar untuk memutuskan persaudaraan”.
Subhanallah, betapa Islam sangat mengagungkan hubungan persaudaraan antar sesama melalui jalinan tali silaturahmi. Dalam QS ‘Ali Imran ayat 103 disebutkan, “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara…..”
Ayat tersebut menerangkan bagaimana Allah memberikan ni’mat atas umat Muslim yang bersatu dalam ikatan tali persaudaraan melalui agama yang di ridhoi Allah,Islam. Karena itu, betapapun banyaknya kendala yang datang ketika kita akan bersilaturahmi, namun dengan niat yang tulus, Insya Allah langkah untuk bersilaturahmi menuju ridho Allah akan semakin dimudahkan,Amin Ya Rabbal ‘alamin.
Islam telah menganjurkan kepada kita sebagai kaum muslimin dan muslimat untuk menjaga silaturahmi antar sesama. Dengan silaturahmi, persaudaraan pun makin erat. Ketika kita bersilaturahmi, berbagai hal dapat dibagi antar sesama. Mulai dari pertukaran pendapat hingga informasi, maka peluang untuk menjemput rezeki Allah pun semakin terbuka. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah, bahwa silaturahmi dapat memperluas rezeki.
Silaturahmi adalah hal yang mudah diucap,namun sulit untuk dilakukan. Ketika niat untuk bersilaturahmi menuju rumah saudara mu’min tercetus,berbagai halangan serta godaan menghampiri.
Rasa enggan, malas hingga bisikan syaithan pun berdatangan, karena syaithan pernah berjanji bahwa mereka akan mengganggu keturunan Nabi Adam,hingga manusia tidak akan mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Karena itu, ketika niat sudah tertancap untuk melakukan silaturahmi,maka segerakanlah. Batasan serta pengertian silaturahmi pun tidak terhenti sebatas mengunjungi rumah saudara muslim dan muslimat. Berbagai cara dapat mempererat silaturahmi kita, seperti menggunakan perangkat teknologi komunikasi. Namun, mengunjungi rumah saudara lebih afdhal ketimbang perangkat teknologi komunikasi. Karena, begitu kita melangkah untuk silaturahmi,maka para malaikat pun mencatat niat serta amal baik kita.
Seorang muslim bagi muslim lainnya diumpamakan seperti tali yang mengikat satu sama lain. Karena itu, marilah kita menjaga tali tersebut agar tetap erat, sehingga umat Islam dapat bersatu dan kuat dalam menghadapi berbagai gangguan serta ujian.
Silaturahmi dapat menguatkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dengan silaturahmi, rasa pesaudaraan semakin terpupuk dan membangun kepedulian terhadap sesama. ‘Auf bin Malik memberikan landasan penting dalam meneguhkan prinsip-prinsip persaudaraan dalam agama dan akidah Islam. Landasan tersebut yakni, “seorang muslim tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari dan “tidak boleh bernazar untuk memutuskan persaudaraan”.
Subhanallah, betapa Islam sangat mengagungkan hubungan persaudaraan antar sesama melalui jalinan tali silaturahmi. Dalam QS ‘Ali Imran ayat 103 disebutkan, “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara…..”
Ayat tersebut menerangkan bagaimana Allah memberikan ni’mat atas umat Muslim yang bersatu dalam ikatan tali persaudaraan melalui agama yang di ridhoi Allah,Islam. Karena itu, betapapun banyaknya kendala yang datang ketika kita akan bersilaturahmi, namun dengan niat yang tulus, Insya Allah langkah untuk bersilaturahmi menuju ridho Allah akan semakin dimudahkan,Amin Ya Rabbal ‘alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)