Selasa, 19 Mei 2009

Meneropong Politik Selebritas

“Kekuasaan Memang Menggiurkan”, itulah realita yang terjadi dalam Pemilu 2009.Angin Surga sebuah kedudukan dan jabatan dapat membuat oang tergiur,tanpa terkecuali kalangan selebritas Indonesia. Banyak diantara mereka yang rela meninggalkan dunia keartisan mereka demi meraih kursi di DPR. Berbagai pertanyaan dan keraguan pun muncul, dapatkah mereka mengemban tanggung jawab sebagai wakil rakyat dengan pengalaman yang masih sangat “hijau”?

Fenomena artis yang menapaki dunia politik dalam pemilu 2009-2014 sudah banyak kita dengar. Sebagian dari mereka bahkan masih sangat “hijau” dalam kancah politik. Hal ini menggambarkan dan semakin memperjelas bahwa dunia politik memeng menarik untuk diselami, temasuk bagi kalangan selebritas.

Beberapa nama yang sudah familiar di telinga kita pun bermunculan dan sukses menduduki kursi kekuasaan di DPR. Diantaranya, Nurul Aifin dan Tantowi Yahya dari Golkar, Primus Yustisio dari PAN, Vena Melinda dan Inggrid Kansil dari Demokrat, Rieke Dyah dari PDIP serta Rachel Maryam dari Gerindra.(Majalah Gatra/20/5/09). Maraknya artis yang terjun ke dunia politik,menjadi sebuah pertanyaan bagi mesin partai politik yang ada. Apakah mesin partai politik tersebut berjalan dalam memberikan bekal serta pelajaran bagi kader-kader mereka, atau hanya alat guna menarik perhatian dan suara rakyat agar memilih.

Berbagai pendapat positif dan negatif pun mengiringi kiprah mereka dalam meraih kursi menjadi anggota dewan. Menurut hemat penulis, ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam masuknya bursa artis ke gedung DPR masa bakti 2009-2014.

Kelebihan itu antara lain:

Pertama, Mempunyai sense of belonging terhadap tanggung jawab yang ada. Sebagai publik figur, artis merasa bahwa seluuruh masyarakat melihat dan memantau kiprah dan kinerja mereka di DPR. Dengan demikian, artis akan berupaya untuk menyampaikan kebutuhan rakyat sebaik mungkin.

Kedua, Lebih memahami kondisi rakyat, Sebagai anggota dewan yang berangkat dari masyarakat biasa pada umumnya, kalangan selebritas di nilai lebih dapat memahami keadaan rakyat yang sesungguhnya. Hal ini dapat menjadi ladang perjuangan dalam tugas mereka kelak.

Selain kelebihan di atas, kalangan selebritas pun punya beberapa kekurangan, antara lain,

Pertama, Kiprah politik artis masih hijau. Atas hal itu, ada kekahwatiran tertentu,bahwa suara mereka akan terkalahkan oleh anggota dewan lainnya dalam merepesentasikan kepentingan rakyat.

Kedua, Mudah dipengaruhi. Banyak diantara artis,yang mengaku bahwa mereka masih belajar menyelami dunia politik. Politik tidak pernah mengenal warna,segalanya dapat berubah dengan cepat.Hal ini menjadi sasaran empuk pihak –pihak lain yang mempunyai kepentingan tertentu.

Atas beberapa alasan di atas, masyarakat Indonesia masih menunggu kepastian dari misi dan visi para selebritas yang menyatakan ingin membantu rakyat banyak, dengan kebijakan yang pro kerakyatan.

Sebuah kesempatan patut kita berikan disertai dengan saran dan dan teguran yang membangun begitu mereka lengah. Seorang pemimpin dan pemegang kekuasaan seyogyanya dapat meneladani empat sifat Nabi Muhammad SAW, Amanah (terpercaya),yang berarti seorang pemimpin harus menjaga kepecayaan rakyat banyak. Sidiq (jujur), yang dimaksudkan bahwa seorang pemimpin harus mempunyai kejujuran,terlebih dalam menyikapi permasalah bangsa. Tabligh (menyampaikan), bahwa seorang pemimpin harus merepesentasikan kebutuhan rakyat, berpihak pada rakyat guna mencapai kehidupan makmur. Fatonah (cerdas), seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan dan kearifan dalam memimpin dan memegang tampuk kekuasaan.

Jika elemen tersebut terpenuhi, baik dari kalangan politisi ataupun selebritas yang mempunyai kesempatan memegang kekuasaan, bangsa Indonesia akan maju karena mempunyai pemimpin atau pemegang kekuasaan yang bijaksana dalam menyikapi persoalan bangsa. Tentunya sinergi antara pemimpin dan masyarakat pun dibutuhkan guna membangun soliditas yang kuat bag kemajuan bangsa Indonesia.