Sorotan untuk berjilbab yang di layangkan terhadap Ibu Ani Yudhoyono oleh DPP PKS Mahfudz Siddiq amat menarik untuk diamati. Betapa tidak, dalam kancah pertarungan pilpres 2009 yang kian dekat, anjuran berjilbab diluncurkan sebagai isu yang dapat menarik simpati publik. Dengan simpati tersebut, masyarakat diharapkan akan memilih capres atau cawapes tertentu yang beristrikan wanita berjilbab.
Adalah pasangan JK-Wiranto yang mempunyai istri seorang wanita berjilbab, yaitu Ibu Mufidah Kalla dan Ibu Uga Wiranto. Dalam kesehariannya,mereka memang selalu menggunakan jilbab. Namun, dibalik isu jilbab ini, muncul sebuah pertanyaan besar, apakah jilbab harus turut serta dipolitisasi sebagai isu kampanye dalam meraih simpati dan dukungan masyarakat serta instansi atau ormas tertentu?.
Hakikat berjilbab
Dalam Al-Qur’an surat Al Ahzab ayat 59 disebutkan, “Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu. Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Subhanallah…betapa Islam sangat mulia karena telah menuntun dan sangat memperhatikan kaum perempuan guna menghindarkan mereka (perempuan) dari gangguan. Dengan berjilbab, perempuan akan terlindungi dari hal-hal yang tidak baik. Berjilbab pun sebagai pengingat atas segala perbuatan yang akan dan telah kita laksanakan.
Berjilbab tidaklah menghalangi karier seorang perempuan. Di Indonesia, sebuah Rumah Sakit di Bekasi melarang pegawainya menggunakan jilbab. Demi mempertahankan dirinya,sang pegawai pun rela meninggalkan pekerjaannya. Banyak pihak yang mengecam kebijakan manajemen rumah sakit tersebut(Republika/31/05/09).
Dalam agama Islam,menutup seluruh aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan adalah wajib jika sudah baligh. Namun, perlu kita sadari, tidak ada sebuah keterpaksaan. Kesadaran untuk berjilbab harus keluar dari diri sendiri. Tidak elok jika bejilbab dengan sebuah keterpaksaan, terlebih jika berjilbab dijadikan sebagai upaya untuk menarik simpati publik dalam pemilu 2009. Wallahu a’lam bisshowaab.
Jilbab sebagai isu kampanye pilpres 2009
Gaung pelaksanaan pilpres 2009 makin dekat. Deklarasi kampanye damai yang diundur menjadi 10 juni 2009 pun tinggal menghitung hari. Kampanye pilpres yang tehitung dari tanggal 2 juni-4 juli 2009 pun mulai dipersiapkan. Berbagai pihak, baik KPU sebagai penyelenggara pemilu serta peserta pemilu termasuk tim sukses 3 pasangan capres cawapres, mulai bersiap untuk menarik dukungan juga simpati publik.
Isu jilbab yang berkembang akhir-akhir ini, menjadi sebuah isu yang dapat mempengaruhi masyarakat guna mengambil keputusan dalam memilih pasangan capres cawapres tertentu. Isu jilbab yang mendapat bantahan dari JK ini mulai berkembang di masyarakat dan menimbulkan opini tertentu.
Dalam kancah politik, pengaruh adalah tipe kekuasaan yang jika seseorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. (Dasar-dasar Ilmu Politik, Miriam Budiarjo,hal67)
Guna memberikan pendidikan politik yang baik untuk masyarakat Indonesia, para peserta pemilu diharapkan tidak membangun isu politik yang menyinggung agama, apalagi mempolitisasi sebuah agama. Agama dan politik adalah sebuah kesatuan yang ada, karena eksistensi agama dapat mengcounter perilaku negatif dalam berpolitik. Namun demikian, bukan berarti politisasi agama diperbolehkan. Isu jilbab yang menyeruak adalah bentuk politisasi agama dalam meraih simpati masyarakat.
Oleh karena itu, dalam membangun Negara demokrasi yang menghormati ajaran sebuah agama, seyogyanya isu jilbab tidak dikaitkan dan tidak diluncurkan sebagai isu yang mengangkat salah satu pasangan capres cawapres tertentu dan menyindir pasangan lain. Marilah kita berbenah dalam pelaksanaan pilpres 2009 dan berkompetisi secara sehat, tanpa mengesampingkan etika dalam berpolitik.
Minggu, 14 Juni 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar